Menu

“Sang Laskar Pelangi” Kunjungi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Memaksimalkan Pendidikan Dari Keterbatasan

Assalamualaikum..

Jumat, 03 Juni 2016 pukul 08.30 wita Universitas Muhammadiyah Banjarmasin kedatangan Tokoh fenomenal yang mencuat beberapa tahun yang lalu dalam dunia Pendidikan di tanah air. Panitia mengemas kegiatan dengan konsep dialog terbuka yang membuat acara semakin menarik, tokoh tersebut adalah Ibu Muslimah “Sang Laskar Pelangi”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Selatan bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

 

laskar

 

Muslimah Hafsari lahir di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, 27 Februari 1952, Muslimah Hafsari lahir dari pasangan KA Abdul Hamid dan Salma Syarif, menikah dengan seorang pegawai PN Timah bernama Hazali Ali. Bu Muslimah adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara, dan dari pernikahannya mempunyai 3 orang anak. Wanita lembut ini adalah pengajar pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka. Bu Muslimah merupakan salah satu tokoh yang di angkat dalam novel paling fenomenal di Indonesia “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Pengabdian Bu Muslimah telah menjadi inspirasi bagi kaum guru. Bahkan pemerintah terkesan dan menggajarnya dengan penghargaan Satya Lencana Pembangunan dan Satya Lencana Pendidikan.

 

pixlr_20160603115040062[1]

 

Pada dialog terbuka kali ini, sambutan pertama diberikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, beliau sangat kagum kepada sosok Ibu Muslimah yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi manusia berkarakter dan dalam islam itu disebut akhlak ungkap rektor. Harapannya ini dapat mengispiratif kepada civitas akademika Universitas Muhammadiyah Banjarmasin  dalam menjalani roda dunia pendidikan.

Sambutan kedua oleh Walikota Banjaramasin yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Drs. H. Murlan, M.M.Pd. Beliau adalah salah satu sosok panutan dalam dunia pendidikan karena saat ini banyak guru berprestasi namun minim dedikasi.

Dalam dunia pendidikan tidak mengenal istilah miskin atau kaya, tetapi kemauan untuk belajar dan mengajar menjadi yang nomor satu. Ketiadaan sarana prasarana bukanlah alasan untuk tidak dapat belajar dan mengajar secara maksimal. Menjadi guru, kata ibu Muslimah adalah panggilan jiwa. Menurut Ibu Muslimah “guru yang berhasil adalah guru yang mampu menyampaikan pelajaran kehidupan pada siswanya, guru yang mengajarkan kehidupan tidak harus pintar, dan seorang guru juga harus bijaksana”.¬† Memaksimalkan Pendidikan dari keterbatasan adalah tantangan mendasar yang harus dihadapi dan wajib ditaklukkan oleh tenaga pendidik maupun institusi pendidikan di tanah air. Menciptakan sebuah bangsa yang kuat dapat berawal dari terciptanya masyarakatnya yang berpendidikan.

Maju terus Dunia Pendidikan Indonesia..

Maju terus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin…

Wassalam…

Bagikan melaui Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Berikan Komentar

Proses...